Nama : Anna Mardiyah
Alvian
Kelas : B
Nim : 1349042007
1. integrasi
ICT dalam lingkup PAUD
2. Keterikatan
ICT dengan PAUD
3. Fungsi
dan peran ICT dalam lingkup PAUD
Pembahasan
:
1. Holmes (1999), memberikan pandangan bahawa integrasi teknologi
dalam pengajaran dan pembelajaran memerlukan guru yang bersedia dan fleksibel
dalam menggunakan teknologi dalam kaedah pengajaran harian dengan mata
pelajaran yang diajar. Mempelajari bagaimana menggunakan komputer belum
mencukupi untuk membolehkan guru menggabungkan teknologi dalam pengajaran dan
pembelajaran. Elemen yang penting dalam mengintegrasi teknologi ialah pemahaman
guru terhadap isi pengajaran dan implikasi berhubung dengan teknologi.
Manakala Menurut Pisapa (1994),
integrasi ICT dalam pengajaran dan pembelajaran bermaksud penggunaan teknologi
pembelajaran untuk memperkenal, mengukuh dan menambah kemahiran. Penggunaan
teknologi mesti digabungjalin bersama kaedah pengajaran. Guru perlu
mengintegrasi ICT untuk memberi nilai tambah kepada aktiviti pengajaran dan pembelajaran
. Ringkasnya peranan ICT dalam pengajaran dan pembelajaran akan membawa kepada
kaedah-kaedah yang baru dan inovatif dalam pembelajaran dan penilaian.
2. ICT DAN ANAK USIA DINI
Bagaimana cara
pemberian IT pada Anak Usia Dini?
Teknologi bagaikan
dua sisi mata uang yang berbeda, yang memiliki sisi positif dan negatif.
Sehingga implementasinya pun akan berbeda pada setiap usia perkembangan anak.
Pada anak
usia dini 0 – 8 tahun sesuai dengan konvensi anak dunia, serta 0 – 6 tahun
menurut konsep pendidikan yang ada di Indonesia, maka banyak cara mengenalkan
teknologi pada anak usia dini, yaitu :
1. Usia 0 – 2
tahun: Pada perkembangan anak usia ini, anak mulai belajar mendengar dan
mengenal sekitarnya, dari rangsangan-rangsangan yang ditimbulkan melalui
gerakan, serta suara. Kemudian anak mulai menirukan ketika mereka mulai
belajar berbicara. Pemberian IT pada usia anak demikian, dapat melalui
multimedia dengan cara diputarkan lagu-lagu rohani atau lagu anak.
Mengenalkan warna juga dapat melalui multimedia dengan memutarkan film-film
kartun anak, yang tentunya mendidikan. Mengapa? Karena film-film kartun saat
ini pun memiliki unsur warna yang beragam, sehingga anak dapat mengenalnya
walau tidak sekaligus, tetapi warna-warna yang dominan. Hal ini pun dapat
membantu pembentukan karakter anak.
2. Usia 3 – 4
tahun: Pada usia ini, anak mulai menggunakan kalimat yang hampir lengkap,
hal ini dapat dilihat dari cara mereka menanyakan sesuatu hal. Menurut Piaget,
cara anak mengajukan pertanyaan menunjukkan perkembangan kognitif seorang anak.
Pada anak yang berasal dari latar belakang orang tua otoriter, anak
kurang belajar berbicara, ketimbang dalam keluarga yang demokratis, dimana anak
bukan saja belajar “mendengar” tetapi juga “didengar”. Oleh
karenannya penting diberikan IT melalui multimedia, dengan cara seperti pada
usia anak 0 – 2 tahun, tetapi cara pembelajarannya sedikit meningkat disesuaikan
dengan usia anak yang telah dapat menerima rangsangan lebih banyak.
Misalnya mulai diajarkan melafalkan ayat-ayat suci Al Qur’an, atau dikenalkan
cerita-cerita Kitab Suci melalui film-film, tentu saja perlu pendampingan orang
tua sehingga dapat terlihat sejauh mana anak mampu untuk belajar. Semakin
banyak kesempatan anak belajar untuk berbicara, dapat membantu anak menumbuhkan
rasa percaya dirinya sehingga pada usia sekolah mereka dapat mengenalkan dan
mengungkapkan dirinya secara lisan.
3. Usia 5 – 6
tahun: Pada usia ini, pengenalan dunia IT sudah lebih meningkat. Pengenalan
dapat berupa pengenalan perangkat keras komputer (hardware) yang bisa dilihat
dan dipegang langsung oleh anak, misalnya : CPU, Monitor, Mouse, Keyboard dan
Printer. Pengenalan perangkat keras ini juga dilengkapi dengan penjelasan
fungsi dari masing-masing alat dengan cara langsung dipraktekkan (learning by
doing).
4. Usia 7 – 8
tahun: pada usia ini, pengenalan dunia IT sudah masuh pada tingkat program
interaktif, dimana anak sudah bisa berinteraksi dengan program aplikasi
pembelajaran.
Dampak Negatif yang
ditimbulkan
a. Efek
radiasi monitor yang perlu diwaspadi.
b. Jarak
pandang yang terlalu dekat dan pencahayaan yang kontras dapat mengganggu indera
penglihatan anak.
c. Pengaturan
waktu penggunaan komputer. Pada anak usia dini sebaiknya waktu penggunaan 1 – 2
jam sehari.
d. Bermain
bersama teman sebaya perlu diperhatikan, sebagai mahluk sosial,
manusia membutuhkan orang lain.
3. TIK
Layak Anak
Untuk menyediakan TIK dalam PAUD yang layak anak perlu memperhatikan kesehatan
dan keselamatan anak. TIK yang digunakan memperhatikan perkembangan anak.
Selain itu pula TIK dalam PAUD memperhatikan waktu yang singkat (10-20 mnt
(3thn), 40 mnt (8thn)), serta peralatan dan ruang yang cocok bagi anak.
Untuk menyediakan TIK dalam PAUD yang layak anak, harus memenuhi delapan
prinsip untuk menentukan kesesuaian aplikasi TIK yang akan digunakan. Delapan
prinsip dimaksud adalah (1) Pastikan tujuan pendidikan; (2) Mendorong
kolaborasi; (3) Mengintegrasikan dengan aspek-aspek lain dari kurikulum; (4)
Anak harus berada dalam kontrol; (5) Pilih aplikasi yang transparan dan
intuitif; (6) Hindari aplikasi yang mengandung kekerasan; (7) Sadar akan isu
kesehatan dan keselamatan; dan terakhir (8) Pendidikan mendorong ketertiban
orang tua.
Sedangkan untuk menghindari komputer atau laptop di rumah terakses dengan
alamat website yang tidak dikehendaki, karena berisi pornograpi. Pemerintah
telah meluncurkan Nawala Project - yang berfungsi untuk memfilter konten yang
tidak dikehendaki
Ø Pembelajaran TIK pada anak usia dini
Dalam Era globalisasi sekarang ini, pemerintah sedang menggalakkan
pentingnya pendidikan anak usia dini. Untuk menciptakan generasi-generasi yang
lebih unggul, juga nantinya mampu bersaing tinggi kelak ketika mereka dewasa
dan juga tidak melupakan nilai-nilai moral dan budaya bangsa Indonesia. Karena
anak usia dini merupakan masa golden age. Dimana terbentuknya pertumbuhan dan
perkembangan otak pada masa-masa usia dini sekitar 0-8 tahun mencapai 80%
pertumbuhan dan perkembangan pada otak manusia. Ibaratnya sebuah spon mereka
mampu dan cepat menyerap ilmu atau apapun yang mereka terima, yang diberikan
lingkungannya pada masa pertumbuhan dan perkembanganya.
Akan tetapi kita tidak boleh melupakan tugas dan hak kewajiban anak
yaitu bermain sambil belajar. Karena dengan suasana bermain seraya belajar
tidak membuat anak merasa ditekan ataupun tertekan pada situasi dan kondisi
mereka yang sedang mempelajari diri dan juga lingkungannya. Melainkan anak akan
mendapat kemudahan pada proses belajar dalam suasana bermain, yang menyenangkan
dan tanpa tekanan. Itulah sebabnya dikatakan dunia anak adalah dunia bermain.
Tidak bisa kita
pungkiri dalam segala bidang TIK sudah menjadi kebutuhan pokok pada
kehidupan kita. Termasuk dalam dunia pendidikan. TIK memiliki peran penting
dalam sarana dan prasarana pembelajaran. Tujuan pembelajaran TIK pada anak usia
dini adalah mengenalkan teknologi
informasi dan
komunikasi. Untuk memudahkan anak usia dini dalam membantu proses belajar
dengan cara yang menyenangkan, kreatif, imaginative dengan memakai TIK sebagai
sumber belajar, seperti CD interaktif yang kini semakin banyak berkembang dalam
modifikasi isi dari pembelajarannya. Contohnya : belajar berhitung, belajar
membaca, mengenal huruf, mengenal warna, geometri, bentuk, juga mengenal
lingkungan,binatang dan tumbuh-tumbuhan serta lain-lainnya. Ada pula
games-games yang menyenangkan anak-anak tetapi juga syarat dengan pembelajaran
seperti puzzle huruf. Sehingga yang tanpa disadari anak, mereka belajar banyak
mengenal kosakata dalam bahasa inggris. Tau bagaimana berhitung. Yang pada masa
sekarang ini banyak orang tua memaksakan anak belajar tanpa memikirkan
kebutuhan dan hak dalam dunia anak yaitu bermain. Dengan adanya sarana dan prasarana
TIK sebagai sumber belajar menjadikan pembelajaran menjadi lebih atraktif juga
kreatif. Membuat anak menjadi lebih tertantang untuk bermain sambil belajar.
Anak-anak usia dini
sangat cepat dan mudah sekali belajar seraya bermain, yang terkadang kita
sebagai orang tua atau juga sebagai pendidik anak usia dini. Tidak boleh
melupakan pengawasaan dalam pembelajaran yang menggunakan sumber belajar TIK.
Agar anak-anak tidak jauh melenceng dari pengenalan pembelajaran yang kita
harapkan pada tujuan semula menjadikan TIK sebagai sumber belajar yang cocok
dan pantas bagi anak usia dini. Karena sebagai mana kita tau. selain TIK
memiliki dampak positif dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan anak dalam
belajar, juga memiliki dampak negative jika kita kurang ataupun lengah terhadap
pengawasan dalam pembelajaran yang menggunakan TIK. Oleh karena itu hendaknya
segala sesuatu yang berkaitan dengan perkembangan pembelajaran TIK, anak perlu
pengawasan dan pembelajaran yang seimbang dengan jiwa dan kebutuhan
pembelajaran, sehingga anak ataupun peserta didik tidak salah menggunakan
pemanfaatan perkembangan teknologi pembelajaran.
Selain lingkungan yang dijadikan sumber
dan media pembelajaran, TIK sangat berperan dalam menumbuhkan semangat dan
kreativitas anak untuk belajar, belajar adalah bersenang-senang, menyenangkan,
dan lebih banyak variasi. Anak usia dini yang dikenal unik, lebih menyukai
gambar yang lucu, unik, warna-warni, dan yang bergerak, maka untuk itu guru
perlu mendesain media pembelajaran berbasis TIK yang dijadikan sebagai media
dan sumber pembelajaran. Guru, dalam mendesain media pembelajaran perlu
memperhatikan kriteria pembuatan media bagi anak usia dini yakni: tidak rumit,
mudah dipahami anak, durasi tidak lama, sederhana, menarik, dan bermakna.
Nama : Anna Mardiyah
Alvian
Nim : 1349042007
Kelas : B
Soal :
1.
Manfaat integrasi di ICT lingkup PAUD
Pembahasan :
INTEGRASI TIK DALAM BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
- Pengertian
a.
Integrasi
Integrasi adalah pembauran hingga
menjadi kesatuan yang utuh.
b.
TIK
Teknologi informasi dan komunikasi
tidak terfokus pada segala sesuatu hal yang berkaitan dengan internet dan
computer saja, akan tetapi segala sarana dan fasilitas yang dapat membantu
proses belajar dan pembelajaran.
c.
Belajar
Suatu usaha yang dilakukan dari
dalam diri seseorang untuk berubah ke arah yang lebih baik.
d.
Pembelajaran
Adalah suatu proses, cara, perbuatan
menjadikan orang agar mau belajar yang berlangsung diluar diri seseorang
(eksternal)
- Integrasi TIK dalam belajar
Dewasa
ini, proses pembelajaran yang ada di sekitar kita tidak jauh-jauh dari
perkembangan teknologi, mulai dari mobile phone, note book,
televisi, dan lain sebagainya. Hal ini karena memang pengaruh teknologi sangat
besar dan tidak bisa kita pungkiri bahwa kita membutuhkan teknologi dalam dunia
pendidikan. Jika merunut pada salah satu prinsip kurikulum pendidikan
yaitu harus relevan dengan perkembangan IPTEK, karena perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi berkembang tiap saat. Maka TIK tidak bisa kita nafi
kan sebagai sumber belajar. Ada beberapa pertanyaan yang akan menggiring
kita kepada topik pembahasan,
Menggunakan
TIK secara efektif di dalam kelas bukanlah menyangkut tentang menjalankan
sebuah teknologi sampai bekerja. Penggunaan TIK bukanlah apa yang kita gunakan
tetapi yang penting adalah bagaimana dan kapan kita menggunakannya.
Menggunakan
TIK dalam setiap belajar akan memacu inovasi. Inovasi adalah menciptakan
sesuatu yang menarik, memikat, merangsang pemikiran, dan menyenangkan. Salah
satu kelebihan penggunaan TIK adalah kemampuannya dalam meracik sebuah pelajaran
yang memperdalam pemahaman siswa akan konsep dan ide, serta memberikan kepada
mereka pengalaman-pengalaman yang baru dan menimbulkan rasa haus akan
pengetahuan di seluruh kelas.
Berdasarkan banyak penelitian, penggunaan TIK
di dalam kelas mempengaruhi
penguasaan dan motivasi siswa. Penerapan TIK dalam pembelajaran
mempunyai pengaruh yang lebih besar daripada itu. Diantaranya:
- Membuka cakrawala baru dalam kegiatan
belajar dan mengajar– mengajar menggunakan TIK memberikan semangat baru
dalam pengajaran, mengadopsi pendekatan yang baru, mengumpulkan berbagai
ide dan konsep, serta mengembangkan kecakapan-kecapakan yang baru.
- Membantu memacu dan mendorong
siswa – menggunakan TIK secara interaktif membantu meningkatkan
kepercayaan diri, meningkatkan perhatian siswa akan pelajaran, serta
membantu membentuk perilaku siswa.
- Mempersiapkan siswa untuk
memasuki dunia kerja – saat ini sulit sekali menemukan sebuah pekerjaan
yang tidak tersentuh oleh TIK.
- Membantu sekolah untuk
memaksimalkan sumber daya yang ada – membantu untuk menghemat uang dan
waktu dengan memaksimalkan dampak yang terjadi akibat penggunaan TIK,
membantu mengurangi beban dalam persiapan, perencanaan dan pengayaan.
Dengan mudah guru dapat melihat kembali pekerjaan-pekerjaan yang sudah
dilakukan, serta menganalisis perkembangan siswa dengan cepat
- Leluasa – belajar dan mengajar
dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa dalam berbagai tingkatan,
kemampuan dan gaya belajar siswa. TIK memberikan kebebasan bagi siswa
untuk mengatur cara belajar mereka, dan dengan cara yang paling sesuai
menurut tipe belajar masing-masing. Siswa memiliki akses ke berbagai
sumber pengetahuan; baik itu materi maupun orang/ahli. Dengan demikian
siswa mampu memiliki pengalaman personal dimana mereka memilih cara
belajar seperti apa yang mereka lebih sukai.
- Kapanpun dan dimanapun – Dengan
menggunakan TIK, siswa tidak perlu tertinggal pelajaran jika tidak dapat
menghadiri sebuah kelas, siswa sekarang mempunyai akses untuk belajar
kapanpun dan dimanapun mereka sukai.
- Pembelajaran Aktif -
pembelajaran tidak lagi bersifat pasif, yakni siswa duduk di depan guru
dan “learning by telling”, penggunaan TIK secara efektif mampu membuat
pembelajaran menjadi aktif. Penekanannya adalah interaktif atau “learning
by doing”.
- Komunitas Online – Belajar
adalah aktifitas sosial, dengan penggunaan TIK pembelajaran yang maksimal
dan tahan lama dapat dicapai dengan bergabung bersama komunitas online dan
jaringan. Siswa didorong untuk berkomunikasi, berkolaborasi, dan berbagi
pengetahuan. TIK mendorong pembelajaran melalui refleksi dan diskusi.
- Integrasi TIK dalam
pembelajaran
Apa yang
Dimaksud dengan Mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran?
Mari
kita bandingkan dua kalimat berikut! ”Learning to Use ICTs vs Using ICTs to
Learn”. Secara sederhana, mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran
sama maknanya dengan menggunakan TIK untuk belajar (using ICTs to learn)
sebagai lawan dari belajar menggunakan TIK (learning to use ICTs). Belajar
menggunakan TIK mengandung makna bahwa TIK masih dijadikan sebagai obyek
belajar atau mata pelajaran.
Sebenarnya, UNESCO
mengklasifikasikan tahap penggunaan TIK
dalam pembelajaran kedalam empat
tahap sebagai berikut:
- Tahap
emerging : baru menyadari akan pentingnya TIK untuk
pembelajaran dan belum berupaya
untuk menerapkannya.
- Tahap
applying, : satu langkah lebih maju dimana TIK telah dijadikan
sebagai obyek untuk dipelajari (mata
pelajaran).
- Pada
tahap integrating : TIK telah diintegrasikan ke dalam kurikulum
(pembelajaran).
- Tahap
transforming : merupakan tahap yang paling ideal dimana TIK telah menjadi
katalis bagi perubahan/evolusi pendidikan. TIK diaplikasikan secara penuh
baik untuk proses pembelajaran (instructional purpose) maupun untuk
administrasi
Apa
yang terjadi dalam praktek pembelajaran di negara-negara berkembang, termasuk
Indonesia, TIK masih dijadikan sebagai obyek atau mata pelajaran. Sebagian besar,
TIK masih dijadikan sebagai obyek belajar atau mata pelajaran di
sekolah-sekolah. Bahkan di tingkat perguruan tinggi atau akademi, banyak dibuka
program studi yang berkaitan dengan TIK, seperti teknik informatika, manajemen
informatika, teknik komputer, dan lain- lain.
Mengapa Pengintegrasian TIK ke dalam Proses
Pembelajaran Penting?
Jawabannya
sangat berkaitan erat dengan mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia untuk
siap memasuki era masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society). Tahun
2020 Indonesia akan memasuki era perdagangan bebas (AFTA). Pada masa itu,
masyarakat Indonesia harus memiliki ICT literacy yang mumpuni dan kemampuan
menggunakannya untuk meningkatkan produktifitas (knowledge-based society).
pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan ICT
literacy membangun karakteristik masyarakat berbasis pengetahuan
(knowledge-based society) pada diri siswa, disamping dapat meningkatkan
efektifitas dan efisiensi proses pembelajaran itu sendiri.
UNESCO (2002) menyatakan bahwa
pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran memiliki tiga tujuan utama:
1)
untuk membangun ”knowledge-based society habits” seperti kemampuan memecahkan
masalah (problem solving), kemampuan berkomunikasi, kemampuan mencari, mengoleh/mengelola
informasi, mengubahnya menjadi pengetahuan baru dan mengkomunikasikannya kepada
orang lain;
2)
untuk mengembangkan keterampilan menggunakan TIK (ICT literacy); dan
3)
untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi prosespembelajaran.
Bagaimana
Mengintegrasikan TIK ke dalam Proses Pembelajaran?
Dari sisi pendekatan, Fryer (2001)
menyarankan dua pendekatan yang dapat dilakukan guru ketika merencanakan
pembelajaran yang mengintegrasikan TIK, yaitu:
Pendekatan Topik (Theme-Centered Approach), Pada pendekatan ini, topik atau
satuan pembelajaran dijadikan sebagai acuan. Secara sederhana langkah yang
dilakukan adalah:
1.
menentukan topiK
2.
menentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
3.
menentukan aktifitas pembelajaran dan software (seperti modul. LKS, program
audio, VCD/DVD, CD-ROM, bahan belajar on-line di internet, dll) yang relevan
untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut.
Pendekatan Software (Software-centered Approach), menganut langkah yang
sebaliknya. Langkah pertama dimulai dengan mengidentifikasi software (seperti
bku, modul, LKS, program audio, VCD/DVD, CD-ROM, bahan belajar on-line di
internet, dll) yang ada atau dimiliki terlebih dahulu. Kemudian menyesuaikan
dengan topik dan tujuan pembelajaran yang relevan dengan software yang ada
tersebut. Sebagai contoh, karena di sekolah hanya ada beberapa VCD atau mungkin
CD- ROM tertentu yang relevan untuk suatu topik tertentu, maka guru
merencanakan pengintegrasian software tersebut untuk mengajar hanya topic
tertentu. Topik yang lain terpaksa dilaksanakan dengan cara konvensional.
Hambatan
dalam mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran
Ada
beberapa hambatan yang perlu digaris bawahi berkaitan dengan pemanfaatan TIK
untuk pembelajaran. Hambatan- hambatan tersebut diantaranya adalah:
- Penolakan/keengganan untuk
berubah (resistancy to change) khususnya dari policy maker (kepala sekolah
dan guru)
- Kesiapan SDM (ICT literacy dan
kompetensi guru)
- Ketersedian fasilitas TIK
- Ketersediaan bahan belajar
berbasis aneka sumber
- Keberlangsungan
(sustainability) karena keterbatasan dana.
Ø Hambatan
yang Terdapat dalam Proses Mengintegrasikan TIK ke dalam Pembelajaran dan
Solusi Pemecahannya
Ada beberapa hambatan yang perlu digaris bawahi berkaitan dengan pe- manfaatan
TIK untuk pembelajaran. Hambatan-hambatan tersebut diantaranya adalah: a)
penolakan/keengganan untuk berubah khususnya dari Kepala Sekolah dan guru; b)
kesiapan SDM (ICT literacy dan kompetensi guru); c) ketersedian fasilitas TIK;
d) ketersediaan bahan belajar berbasis aneka sumber; dan) keber- langsungan
(sustainability) karena keterbatasan dana (Utomo:2008).
Beberapa hal berikut untuk dipecahkan secara sistemik dan simultan
(Utomo:2008):
a. Dukungan Kebijakan; sekolah mengeluarkan kebijakan untuk mengedepankan
pengintegrasian TIK untuk pembelajaran. Misalnya melalui pencanangan visi,
misi, peraturan dan rencana induk/rencana strategis sekolah ke depan.
b. e-Leadership; Kepala sekolah dan atau beberapa guru panutan di sekolah me- nyadari
penuh pentingnya peran TIK untuk pembelajaran dan berupaya untuk terus
mempelajari dan menerapkannya di sekolah.
c. Penyiapan SDM; sekolah mengembangkan ICT literacy para guru dan kom- petensi
guru dalam mengintegrasikan TIK ke dalam pembelajaran (termasuk berbagai
strategi/metode pembelajaran yang efektif). Bila perlu guru meng-
adopsi atau mengadaptasi strategi pembelajaran yang telah terbukti efektif dan
mengkomunikasikannya dengan kolega. Bila perlu mengembangkan sendiri. Hal ini
dapat dilakukan melalui pelatihan, pengiriman mengikuti loka karya atau
seminar, terlibat aktif dalam komunitas jaringan sekolah dan lain-lain. Di
samping itu, sekolah juga harus menyiapkan tenaga teknis dalam bidang TIK untuk
pembelajaran.
d. Penyiapan fasilitas; sekolah menyiapkan fasilitas yang kondusif agar
terjadinya belajar berbasis aneka sumber dengan menyiapkan beberapa fasilitas
seperti perpustakaan (cetak dan non-cetak), komputer yang terhubung dengan LAN,
koneksi internet, VCD/DVD player plus televisi, serta komposisi ruang kelas.
e. Penyediaan software pembelajaran; penyediaan software pembelajaran seperti
buku, modul, LKS, program audio cassette, VCD/DVD, CD-ROM interaktif, dan
lain-lain dapat dilakukan dengan cara membeli produk yang telah ada di pasar
atau memproduksi sendiri.
f. Penyiapan tenaga teknis; fasilitas TIK yang ada di sekolah hendaknya
didukung oleh beberapa tenaga teknis yang memiliki keahlian atau keterampilan
dalam mengelola dan memelihara peralatan tersebut.
Ø MANFAAT TEKNOLOGI KOMPUTER BAGI PENDIDIKAN
ANAK USIA DINI
Komputer kini tengah menjadi salah
satu media pembelajaran alternatif untuk anak usia dini. Hal ini dapat dilihat
dari kian marak dan berkembangnya software-software dengan program
tertentu dalam bentuk CD interaktif untuk membantu pembelajaran anak usia dini.
CD interaktif yang ditawarkan pun sangat beragam jenisnya mulai dari
pembelajaran umum hingga pembelajaran yang sifatnya islami. Mulai dari
pengenalan huruf alphabet, angka-angka, warna, bentuk geometri dan lain-lain.
Contoh dari CD islami yaitu pengenalan huruf hijaiyah, sholat, wudhu dan
lain-lain. Metode yang ditampilkan oleh CD interaktif pun bermacam-macam, ada
yang menggunakan metode bernyanyi, bercerita, permainan atau bahkan kombinasi
dari beberapa metode dan tentunya dikemas secara interaktif sehingga terdapat
keterlibatan terhadap diri anak.
Pembelajaran melalui CD interaktif
yang diterapkan pada anak usia dini tentunya dapat menstimulasi beberapa
kecerdasan. Misalnya kecerdasan kognitif yaitu dengan bertambahnya pengetahuan
anak dan kemampuan anak dalam memahami sesuatu. Kecerdasan bahasa, yaitu dapat
dilihat dari bertambahnya kosa kata anak. Hal lain yang dapat dikembangkan dari
pembelajaran melalui komputer bagi anak adalah stimulasi bagi
perkembangan antara kordinasi mata dengan ketepatan gerak tangan. Secara tidak
langsung pembelajaran melalui komputer juga menstimulasi bagi perkembangan
motorik halus anak khususnya daya rangsang pada anak agar anak dapat melatih
kemampuan berfikir untuk lebih kreatif, mengenal manfaat teknologi terutama
dalam penggunaan komputer.
Mengatasi keterbataasan ruang,
waktu dan daya indera.
dapat mendorong anak untuk belajar selain metode
verbalistis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan
belaka). Anak dapat mempunyai bekal kesiapan yang
pasti memasuki gerbang perguruan tinggi. Pengetahuan
yang
dibedah dari setumpuk buku, masih yang terlewa
tyang dapat ditemukan dari bahan ajar lain yang
berserakan di dunia maya dalam bentuk kode-kode
digital.
Belajar tatap muka dengan guru atau berdiskusi
dengan teman sebangku akan semakin terlengkapi
dengan pembelajaran menggunakan multi media yang
bersifat statis atau interaktif. Komputer dapat juga
digunakan untuk mempermudah menunjukkan
pengetahuan, mengganti simulasi yang berbahaya,
memberi daya tarik yang lengkap menyentuh seluruh modalitas
manusia lewat desain multimedia.
Diantara manfaat yang dapat
diperoleh adalah penggunaan perangkat lunak pendidikan seperti program-program
pengetahuan dasar membaca, berhitung, sejarah, geografi, dan sebagainya.
Tambahan pula, kini perangkat pendidikan ini kini juga diramu dengan unsur
hiburan (entertainment) yang sesuai dengan materi, sehingga anak semakin suka.
Dalam kaitan ini, komputer dalam
proses belajar, akan melahirkan suasana yang menyenangkan bagi anak.
Gambar-gambar dan suara yang muncul juga membuat anak tidak cepat bosan,
sehingga dapat merangsang anak mengetahui lebih jauh lagi. Sisi baiknya, anak
dapat menjadi lebih tekun dan terpicu untuk belajar berkonsentrasi
Selain memiliki manfaat, komputer
juga menyimpan mudhorot. Keterlibatan orangtua amat diperlukan untuk mencegah
anak mengambil manfaat dari kotak ajaib ini.
Ø Positif-Negatif
Nina Armando, Staf Pengajar Jurusan
Komunikasi FISIP UI, mengatakan bahwa kemunculan teknologi komputer sendiri
sesungguhnya bersifat netral. Pengaruh positif atau negatif yang bisa muncul
dari alat ini tentu saja lebih banyak tergantung dari pemanfaatannya. Bila
anak-anak dibiarkan menggunakan komputer secara sembarangan, pengaruhnya bisa
jadi negatif. Sebaliknya, komputer akan memberikan pengaruh positif bila
digunakan dengan bijaksana, yaitu membantu pengembangan intelektual dan motorik
anak.
Pengaruh negatif lain, disepakati
Nina dan Rizal adalah terbukanya akses negatif anak dari penggunaan internet.
Mampu mengakses internet sesungguhnya merupakan suatu awal yang baik bagi
pengembangan wawasan anak. Sayangnya, anak juga terancam dengan banyaknya
informasi buruk yang membanjiri internet.
Melalui internetlah berbagai materi
bermuatan seks, kekerasan, dan lain-lain dijajakan secara terbuka dan tanpa
penghalang. Nina mengungkapkan sebuah studi yang menunjukkan bahwa satu dari 12
anak di Canada sering menerima pesan yang berisi muatan seks, tawaran seks,
saat tengah berselancar di internet.
demi mencegah dampak negatifnya, ada
beberapa hal yang harus dilakukan orangtua.
Pertama, orangtualah yang seharusnya
mengenalkan internet pada anak, bukan orang lain. Mengenalkan internet berarti
pula mengenalkan manfaatnya dan tujuan penggunaan internet. Karena itu, ujar
Nina, orangtua terlebih dahulu harus ‘melek’ media dan tidak gatek.
Kedua, gunakan software yang
dirancang khusus untuk melindungi ‘kesehatan’ anak. Misalnya saja program nany
chip atau parents lock yang dapat memproteksi anak dengan mengunci segala akses
yang berbau seks dan kekerasan.
Ketiga, letakkan komputer di ruang
publik rumah, seperti perpustakaan, ruang keluarga, dan bukan di dalam kamar
anak. Meletakkan komputer di dalam kamar anak, menurut Nina akan mempersulit
orangtua dalam hal pengawasan. Anak bisa leluasa mengakses situs porno atau
menggunakan games yang berbau kekerasaan dan sadistis di dalam kamar terkunci.
Bila komputer berada di ruang keluarga, keleluasaannya untuk melanggar aturan
pun akan terbatas karena ada anggota keluarga yang lalu lalang.
Pengaruh negatif lain bagi anak,
menurut Rizal, adalah kecendrungan munculnya ‘kecanduan’ anak pada komputer.
Kecanduan bermain komputer ditengarai memicu anak menjadi malas menulis,
menggambar atau pun melakukan aktivitas sosial.
Kecanduan bermain komputer bisa
terjadi terutama karena sejak awal orangtua tidak membuat aturan bermain
komputer. Seharusnya, orangtua perlu membuat kesepakatan dengan anak soal waktu
bermain komputer. Misalnya, anak boleh bermain komputer sepulang sekolah
setelah selesai mengerjakan PR hanya selama satu jam. Waktu yang lebih longgar
dapat diberikan pada hari libur.
Pengaturan waktu ini perlu dilakukan agar anak tidak berpikir bahwa bermain
komputer adalah satu-satunya kegiatan yang menarik bagi anak. Pengaturan ini
perlu diperhatikan secara ketat oleh orangtua, setidaknya sampai anak berusia
12 tahun. Pada usia yang lebih besar, diharapkan anak sudah dapat lebih mampu
mengatur waktu dengan baik.
Daftar
Pustaka