Nama : Anna Mardiyah Alvian
Kelas : B
NIM : 1349042007
Soal :
Model
pembelajaran melalui media elektronik
Pembahasan :
Ø Pengertian
Media Pembelajaran Elektronik
1. Pengertian Media Pembelajaran
Media (bentuk jamak dari kata medium), merupakan kata yang
berasal dari bahasa latin medius,
yang secara harfiah berarti ‘tengah’, ‘perantara’ atau ‘pengantar’ (Arsyad,
2002; Sadiman, dkk., 1990). Oleh karena itu, media dapat diartikan sebagai
perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Media dapat
berupa sesuatu bahan (software) dan/atau
alat (hardware). Sedangkan
menurut Gerlach & Ely (dalam Arsyad, 2002), bahwa media jika dipahami
secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun
kondisi, yang menyebabkan siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan,
atau sikap. Jadi menurut pengertian ini, guru, teman sebaya, buku teks,
lingkungan sekolah dan luar sekolah, bagi seorang siswa merupakan media.
Pengertian ini sejalan dengan batasan yang disampaikan oleh Gagne (1985), yang
menyatakan bahwa media merupakan berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa
yang dapat merangsang untuk belajar.
Dalam dunia pendidikan, sering kali istilah alat bantu atau
media komunikasi digunakan secara bergantian atau sebagai pengganti istilah
media pendidikan (pembelajaran). Seperti yang dikemukakan oleh Hamalik (1994)
bahwa dengan penggunaan alat bantu berupa media komunikasi, hubungan komunikasi
akan dapat berjalan dengan lancar dan dengan hasil yang maksimal. Batasan media
seperti ini juga dikemukakan oleh Reiser dan Gagne (dalam Criticos, 1996;
Gagne, et al., 1988), yang
secara implisit menyatakan bahwa media adalah segala alat fisik yang digunakan
untuk menyampaikan isi materi pengajaran. Dalam pengertian ini, buku/modul,
tape recorder, kaset, video recorder, camera video, televisi, radio, film,
slide, foto, gambar, dan komputer adalah merupakan media pembelajaran. Menurut
National Education Association -NEA (dalam Sadiman, dkk., 1990), media adalah
bentuk-bentuk komunikasi baik yang tercetak maupun audio visual beserta
peralatannya.
Berdasarkan
batasan-batasan mengenai media seperti tersebut di atas, maka dapat dikatakan
bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang menyangkut software dan hardware yang dapat digunakan untuk meyampaikan isi materi ajar
dari sumber belajar ke pebelajar (individu atau kelompok), yang dapat
merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat pebelajar sedemikian rupa
sehingga proses belajar (di dalam/di luar kelas) menjadi lebih efektif.
2. Posisi Media Pembelajaran
Bruner
(1966) mengungkapkan ada tiga tingkatan utama modus belajar, seperti: enactive (pengalaman langsung), iconic (pengalaman piktorial atau
gambar), dan symbolic
(pengalaman abstrak). Pemerolehan pengetahuan dan keterampilan serta perubahan
sikap dan perilaku dapat terjadi karena adanya interaksi antara pengalaman baru
dengan pengalaman yang telah dialami sebelumnya melalui proses belajar. Sebagai
ilustrasi misalnya, belajar untuk memahami apa dan bagaimana mencangkok. Dalam
tingkatan pengalaman langsung, untuk memperoleh pemahaman pebelajar secara
langsung mengerjakan atau membuat cangkokan. Pada tingkatan kedua, iconic, pemahaman tentang mencangkok
dipelajari melalui gambar, foto, film atau rekaman video. Selanjutnya pada
tingkatan pengalaman abstrak, siswa memahaminya lewat membaca atau mendengar
dan mencocokkannya dengan pengalaman melihat orang mencangkok atau dengan
pengalamannya sendiri.
Berdasarkan uraian di atas, maka dalam proses belajar
mengajar sebaiknya terjadi variasi aktivitas yang melibatkan semua alat indera
pebelajar. Semakin banyak alat indera yang terlibat untuk menerima dan mengolah
informasi (isi pelajaran), semakin besar kemungkinan isi pelajaran tersebut
dapat dimengerti dan dipertahankan dalam ingatan pebelajar. Jadi agar
pesan-pesan dalam materi yang disajikan dapat diterima dengan mudah (atau
pembelajaran berhasil dengan baik), maka pengajar harus berupaya menampilkan
stimulus yang dapat diproses dengan berbagai indera pebelajar. Pengertian
stimulus dalam hal ini adalah suatu “perantara” yang menjembatani antara
penerima pesan (pebelajar) dan sumber pesan (pengajar) agar terjadi komunikasi
yang efektif.
3. Fungsi Media Pembelajaran
Efektivitas proses belajar mengajar (pembelajaran) sangat
dipengaruhi oleh faktor metode dan media pembelajaran yang digunakan. Keduanya
saling berkaitan, di mana pemilihan metode tertentu akan berpengaruh terhadap
jenis media yang akan digunakan. Dalam arti bahwa harus ada kesesuaian di
antara keduanya untuk mewujudkan tujuan pembelajaran. Walaupun ada hal-hal lain
yang juga perlu diperhatikan dalam pemilihan media, seperti: konteks
pembelajaran, karakteristik pebelajar, dan tugas atau respon yang diharapkan
dari pebelajar (Arsyad, 2002). Sedangkan menurut Criticos (1996), tujuan pembelajaran,
hasil belajar, isi materi ajar, rangkaian dan strategi pembelajaran adalah
kriteria untuk seleksi dan produksi media. Dengan demikian, penataan
pembelajaran (iklim, kondisi, dan lingkungan belajar) yang dilakukan oleh
seorang pengajar dipengaruhi oleh peran media yang digunakan.
Pemanfaatan media dalam pembelajaran dapat membangkitkan
keinginan dan minat baru, meningkatkan motivasi dan rangsangan kegiatan
belajar, dan bahkan berpengaruh secara psikologis kepada siswa (Hamalik, 1986).
Selanjutnya diungkapkan bahwa penggunaan media pengajaran akan sangat membantu
keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian informasi (pesan dan isi
pelajaran) pada saat itu. Kehadiran media dalam pembelajaran juga dikatakan
dapat membantu peningkatan pemahaman siswa, penyajian data/informasi lebih
menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi.
Jadi dalam hal ini dikatakan bahwa fungsi media adalah sebagai alat bantu dalam
kegiatan belajar mengajar.
Sadiman, dkk (1990) menyampaikan fungsi media (media
pendidikan) secara umum, adalah sebagai berikut: (i) memperjelas penyajian
pesan agar tidak terlalu bersifat visual; (ii) mengatasi keterbatasan ruang,
waktu, dan daya indera, misal objek yang terlalu besar untuk dibawa ke kelas
dapat diganti dengan gambar, slide, dsb., peristiwa yang terjadi di masa lalu
bisa ditampilkan lagi lewat film, video, fota atau film bingkai; (iii)
meningkatkan kegairahan belajar, memungkinkan siswa belajar sendiri berdasarkan
minat dan kemampuannya, dan mengatasi sikap pasif siswa; dan (iv) memberikan
rangsangan yang sama, dapat menyamakan pengalaman dan persepsi siswa terhadap
isi pelajaran.
Fungsi media, khususnya media visual juga dikemukakan oleh
Levie dan Lentz, seperti yang dikutip oleh Arsyad (2002) bahwa media tersebut
memiliki empat fungsi yaitu: fungsi atensi, fungsi afektif, fungsi kognitif,
dan fungsi kompensatoris. Dalam fungsi atensi, media visual dapat menarik dan
mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran. Fungsi
afektif dari media visual dapat diamati dari tingkat “kenikmatan” siswa ketika
belajar (membaca) teks bergambar. Dalam hal ini gambar atau simbul visual dapat
menggugah emosi dan sikap siswa. Berdasarkan temuan-temuan penelitian
diungkapkan bahwa fungsi kognitif media visual melalui gambar atau lambang
visual dapat mempercepat pencapaian tujuan pembelajaran untuk memahami dan
mengingat pesan/informasi yang terkandung dalam gambar atau lambang visual
tersebut. Fungsi kompensatoris media pembelajaran adalah memberikan konteks
kepada siswa yang kemampuannya lemah dalam mengorganisasikan dan mengingat
kembali informasi dalam teks. Dengan kata lain bahwa media pembelajaran ini
berfungsi untuk mengakomodasi siswa yang lemah dan lambat dalam menerima dan
memahami isi pelajaran yang disajikan dalam bentuk teks (disampaikan secara
verbal).
Dengan menggunakan istilah media pengajaran, Sudjana dan
Rivai (1992) mengemukakan beberapa manfaat media dalam proses belajar siswa,
yaitu: (i) dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa karena pengajaran akan
lebih menarik perhatian mereka; (ii) makna bahan pengajaran akan menjadi lebih
jelas sehingga dapat dipahami siswa dan memungkinkan terjadinya penguasaan
serta pencapaian tujuan pengajaran; (iii) metode mengajar akan lebih
bervariasi, tidak semata-mata didasarkan atas komunikasi verbal melalui
kata-kata; dan (iv) siswa lebih banyak melakukan aktivitas selama kegiatan
belajar, tidak hanya mendengarkan tetapi juga mengamati, mendemonstrasikan,
melakukan langsung, dan memerankan.
Berdasarkan atas beberapa fungsi media pembelajaran yang
dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan media pembelajaran
elektronik dalam kegiatan belajar mengajar memiliki pengaruh yang besar
terhadap alat-alat indera. Terhadap pemahaman isi pelajaran, secara nalar dapat
dikemukakan bahwa dengan penggunaan media akan lebih menjamin terjadinya
pemahaman yang lebih baik pada siswa. Pebelajar yang belajar lewat mendengarkan saja akan berbeda
tingkat pemahaman dan lamanya “ingatan” bertahan, dibandingkan dengan pebelajar
yang belajar lewat melihat atau
sekaligus mendengarkan dan melihat. Media pembelajaran juga mampu membangkitkan
dan membawa pebelajar ke dalam suasana rasa senang dan gembira, di mana ada
keterlibatan emosianal dan mental. Tentu hal ini berpengaruh terhadap semangat
mereka belajar dan kondisi pembelajaran yang lebih hidup, yang nantinya
bermuara kepada peningkatan pemahaman pebelajar terhadap materi ajar.
4.
Pengertian Media Pembelajaran Elektronik
Dikatakan oleh Darin E. Hartley bahwa: e-learning merupakan suatu jenis belajar
mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan
menggunakan media internet, intranet atau media jaringan komputer lain.
LearnFrame.com
dalam Glossary of e-learning Terms [Glossary, 2001] menyatakan suatu definisi
yang lebih luas bahwa: e-learning
adalah system pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung
belajar mengajar dengan media internet, jaringan komputer maupun komputer stand
alone.
Pengertian e-learning menurut
Maryati S.Pd., e-learning terdiri dari dua bagian yaitu e- yang merupakan
singkatan dari elektronika dan learning yang berarti pembelajaran. Jadi
e-learning berarti pembelajaran dengan menggunakan jasa bantuan perangkat
elektronika, khususnya perangkat komputer. Terdapat kata "khususnya
komputer" pada akhir kalimat yang member pengertian bahwa komputer
termasuk alat elektronik disamping alat pembelajaran elektronik yang lain.
Menurut Maman Somantri, media elektronik adalah sebagai alat bantu pembelajaran,
misalnya tape recorder dapat merekam suara guru untuk didengarkan di lain waktu,
OHP mambantu guru
tidak repot dengan kotornya spidol saat menulis di papan tulis dan mahasiswa
dapat dengan mudah menggandakan slide tanpa susah mencatat. Komputer stand
alone menyampaikan
materi secara lebih interaktif dengan presentasi yang disertai dengan video dan
gambar pendukung lainnya.
Ø Alasan mengapa
media elektronik sangat membantu proses pembelajaran antara lain:
1.
Media
elektronik merupakan media yang membuat konsep abstrak menjadi nyata. Hal ini
dapat dicontohkan pada pelajaran kimia, misalnya tentang atom. Atom sebagaimana
kita telah tahu, tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Sementara untuk
membuat siswa paham tentang atom, diperlukan gambaran nyata tentang atom
tersebut. Media elektronik dapat melakukannya.
2.
Dengan
memanfaatkan media elektronik dalam proses pembelajaran, siswa dapat dengan
langsung melihat bahkan menggunakan benda-benda berbahaya. Misalnya dalam
pratikum kimia. Zat-zat kimia yang berbahaya tentu tidak mungkin digunakan
siswa tanpa bimbingan guru atau pembimbing yang profesional. Ini akan
menghambat rasa keingintahuan siswa tentang zat-zat tersebut. Dengan media
pembelajaran elektronik, siswa dapat menggunakan zat kimia tersebut secara
tidak langsung melalui program pembelajaran yang disediakan media pembelajaran
elektronik.
3.
Media
elektronik menghadirkan objek yang besar di dalam proses pembelajaran.
Contohnya pada pelajaran geografi tentang kelautan. Tentu tidak mungkin untuk
mengamati laut secara dekat saat proses pembelajaran berlangsung. Ketika ada
media pembelajaran elektronik, siswa dapat melihat secara dekat gambar laut
tersebut melalui slide bergambar.
4.
Media
elektronik dapat memperlihatkan kepada siswa gerakan yang terlalu cepat.
Misalnya pada gerak roket.
5.
Siswa dapat
berinteraksi langsung dengan lingkungannya. Ini dapat dicontohkan pada
pelajaran sosiologi. Ketika guru menyuruh siswanya untuk memperhatikan dan
menyimpulkan bagaimana cara orang berinteraksi di pasar. Siswa tidak harus
pergi ke pasar untuk menyaksikannya, cukup dilihat dalam video.
6.
Membangkitkan
motivasi belajar. Media elektronik memungkinkan penggunanya untuk terhubung
dengan jaringan internet. Dari sana, siswa dapat mencari, menyaksikan dan
mendengar materi pelajaran apa saja yang mereka butuhkan. Sehingga para siswa
menjadi termotivasi untuk terus menggali informasi materi pelajaran.
7.
Materi
pelajaran yang diberikan melalui media pembelajaran elektronik dapat disimpan
dan dilihat kembali. Berbeda dengan media pembelajaran manual, jika guru
menggunakan media pembelajaran elektronik, ia dapat menyimpan materi itu dan
memberikannya atau menerangkannya kemabali kapanpun ia butuh.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar